Terapi Alhamdulillah

“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”
(Ar-Rahman)

Belakangan ini “terapi Alhamdulillah” saya menunjukkan efek-efek yang sangat ajaib. Tekniknya sederhana saja: setiap kali otak terpecut untuk marah atau sedih (fight or flight response), tarik napas dan ucapkan dalam hati: “Alhamdulillah, saya masih punya …. (isi titik-titik dengan apa saja yang Anda punya dan pantas disyukuri)”

Tentu saja ini akan sedikit lebih sulit dilakukan saat PMS dimana amygdala menjadi luar biasa reaktif (makasih banget loh, progesteron!), but bear with it ladies, you know you are strong.

Kemarin ini saya menemukan koleksi kalung saya dalam keadaan kusut masai, terbelit gila-gilaan. Tiba-tiba mereka memutuskan untuk menjalin suatu ikatan erat yang begitu kuatnya sehingga sulit bagi saya mengambil kalung yang ingin saya pakai saat itu. Sambil melihat jam dengan panik karena sudah harus pergi, saya tarik-tarik buntelan kalung dengan frustrasi dan menyumpah-nyumpah dalam hati dengan umpatan andalan:

“DASAR KALUNG SETAANNNN!!!”

Dan tiba-tiba sisi waras diri saya (ternyata masih ada) mengingatkan. Sudah bagus saya masih mampu membeli kalung sebanyak ini sampai bisa terbelit serumit ini (emang sih cuma kalung hasil hunting di bazaar yang harganya ga lebih dari Rp.50.000, but still…) kok berani-beraninya saya menyumpahi sesuatu yang seharusnya saya syukuri?

Lalu si setan yang tadi saya sebut-sebut pun berganti dengan pikiran:

“Alhamdulillah, gue masih bisa koleksi kalung sampe sebanyak ini…” *sambil benar-benar merasa bahagia sudah memiliki mereka semua*

Dan tebak apa yang terjadi sodara-sodara? Bukan, kalungnya tidak berubah menjadi intan dan berlian, unfortunately

Tapi kekusutan itu mendadak terurai tanpa perlu kekerasan dan dengan mudahnya saya mendapatkan kalung yang mau saya pakai.

Sepele? Mungkin. Tapi bagi saya itu tetap merupakan suatu keajaiban 😀

**

Lalu hal ini saya coba praktekkan ketika tengah menghadapi cobaan yang tergolong baru untuk saya.

“Alhamdulillah, masih ada yang mau fitnah dan jelek-jelekin gue, mungkin itu artinya gue punya nama dan kredibilitas yang cukup baik, makanya ada yang mau nyoba jatohin…”

“Alhamdulillah, ternyata masih banyak yang peduli sama gue, daripada digosipin yang aneh-aneh tapi ga ada yang peduli? Sedih amatan kan? Lagian masih ada puluhan yang lain yang gak terhasut dan begitu menyayangi gue. Why waste my time on the rest?”

Dan (lagi-lagi) Alhamdulillah, sekarang semua baik-baik saja. Amygdala saya sudah tenang kembali (see you in a month!) dan keadaan sudah kembali normal dalam sekejap mata. Bahkan lebih baik.

I am still counting down the days now. But unlike before, I count them along with my blessings. My endless blessings.
Care to count yours?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s