Surat Untuk Pemfitnah

Kepada:
Pemfitnah
di tempat 

Mulutmu harimaumu. Itu yang saya pelajari dari interaksi dengan orang tidak berhati nurani seperti Anda. Setelah Anda melakukan tindakan kotor mencoreng moral dan pendidikan, berani-beraninya Anda memutarbalikkan fakta seolah-olah saya yang salah. Apa tidak cukup fitnah dan kejahatan yang Anda perbuat terhadap teman-teman saya? Apa memang perlu Anda hasut sekelompok yang tidak tahu apa-apa, hanya untuk mati-matian membersihkan nama Anda? Tidakkah cukup sogokan hina yang Anda terima? Tidak cukupkah uang haram yang Anda telan selama ini?

Anda tampil sebagai sosok yang taat beragama, bahkan saya sendiri terkecoh ketika pertama kenal dengan Anda. Saya memaklumi dan menganggap segala pelecehan verbal dan fisik yang Anda lakukan itu hanya lelucon semata. Tapi sekarang Anda tak lebih dari seonggok tahi berjamur yang tampil pura-pura. Biarlah waktu yang akan mengungkap kebenaran. Saya tidak perlu berkoar-koar menghasut orang seperti apa yang Anda lakukan. Seharusnya Anda malu dengan teriakan Anda menyuruh-nyuruh orang untuk sholat. Kalau Anda memang baik dan pantas dijadikan teladan, orang akan melihatnya tanpa perlu Anda teriakkan suara sumbang Anda.

Saya tidak punya keperluan untuk dekat-dekat atau pura-pura baik dengan Anda. Mereka yang telah Anda hasut untuk berbuat jahat pada sayalah yang akan tetap saya perlakukan dengan baik. Jalani saja hidup Anda yang kotor itu, tanpa perlu menyeret-nyeret saya ke dalamnya. Buktikan saja kalau Anda waras dan berpendidikan. Tidak usah teriak-teriak sembari menyemburkan ludah nista Anda ke semua orang. Karena tanpa melakukan itu semua, Anda sudah terlalu rendah dan menjijikan sebagai orang yang mengakui dirinya seorang guru. Apa yang akan Anda ajar jika otak saja Anda tidak punya? Apa yang akan Anda didik jika hati Anda sudah cacat dan rusak dimana-mana?

2 thoughts on “Surat Untuk Pemfitnah

  1. huh … ga jauh beda ternyata dengan apa yg sedang gw hadapi sekarang. Perihal “karakter menjijikkan” seseorang yang sayangnya berada beberapa level di atas kita atau tepatnya lebih dahulu ada dibanding kita.

    Kalo sekarang sih, gw hanya bs ikhlas (tepatnya diam) dengan tetap bekerja seoptimal mungkin, karena gw yakin cepat atau lambat kebusukan mereka pasti akan segera tercuat hingga mampu membawa kebanggaan tersendiri untuk batin ini. Sabar ajah bu … kalo kita yakin akan suatu kebenaran … segalanya pasti dimudahkan. Insyaallah! ^^

  2. pul, he is such an asshole. untung badai cepat berlalu, berkat gw mengikhlaskan segala kezholiman yang terjadi kmaren itu… hehehe…
    same thing will work on you pren, keep on giving all your heart, people will notice =)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s