sang gadis pembunuh

Jarum jam menunjukkan pukul 13.45, dengan tergesa-gesa sang gadis menyambar kunci mobilnya untuk segera berangkat. Sempat terhambat di gudang karena tidak menemukan sepatu atau sendal yang cocok untuk digunakan dengan rok batiknya (ya, dia berusaha “do what she’s saying” instead of “no action talk only”, yaitu membuat batik jadi trend fashion paling funky abad ini).

“Arghhh… mati gue! Sidang Nandul (bukan nama sebenarnya -red) jam 2 lagi!” jerit sang gadis dalam hati. Hari ini merupakan waktu bagi kloter (=klompok terbang) terakhir angkatan 200* untuk menempuh ujian sidang semester ini, dan tentunya momen penting itu harus dirayakan bersama.

Maka setelah asal memilih sendal (yang ternyata warna dan modelnya sangat tidak tepat untuk tema pakaian hari ini yang seharusnya “tradisional”), sang gadis bergegas keluar menembus udara dingin berangin.

Hujan turun dengan sadisnya, tak menyisakan celah bagi mereka yang ingin melaluinya tanpa terkena tetesannya.

Dan hujan yang deras tersebut, tanpa disadari, turut mengurangi kewaspadaan dan kesadaran manusia akan apa yang terjadi di sekitarnya.

Kunci mobil dicobloskan.

Gigi mundur dimasukkan.

Panik melihat jam.

Pedal gas diinjak.

Mobil bergerak mundur.

Dan tiba2…

Gluduk”

Sang gadis sempat merasakan undakan yang ia lewati, tapi karena konsentrasinya lebih ke arah jalanan di belakangnya, serta suara hujan yang membahana membuat semua terasa kabur dan tak signifikan, ia tak menaruh perhatian pada undakan yang seharusnya menimbulkan pertanyaan itu.

Sampai sang embak tiba2 berteriak2,

“Kucingnya kena, Vin!”

Karena ditulikan oleh deru hujan, sang gadis perlu membuka jendela dan berteriak, “APA???”

Kucingnya kena!”

Ucem a.k.a Kusem, kucing sang gadis yang sudah beberapa bulan ini menderita penyakit koreng dan jamuran telah terlindas. Kucing itu sudah lama hendak dibawa ke dokter hewan, namun karena padatnya kesibukan pemilik2nya, rencana itu terus tertunda. Berbagai obat, bedak, dan antiseptik telah dicoba untuk diberikan, namun ibarat penyakit AIDS, penyakitnya semakin parah seiring dengan berjalannya waktu.

Sempat timbul pertanyaan, “haruskah ia dibuang daripada menularkan penyakit ke kucing2 (dan mungkin manusia) lainnya?” Namun hati nurani berkata itu terlalu kejam. Jalan keluar tetap tidak ditemukan. Musyawarah tetap tak mencapai mufakat.

Kucing adalah hewan yang peka, dan jika mereka diributkan atau dianggap sebagai masalah, mereka biasanya akan mati. Yang tak disangka2, sang kucing tewas di lindasan ban pemiliknya sendiri. Suatu kecelakaan tragis. Yang mau tak mau merupakan akhir dari suatu masalah dan derita yang berkepanjangan.

Perjalanan yang semestinya hanya 30 menit itu pun terasa seperti berjam2 lamanya.

Dan hujan turun tiada henti.

Dengan tetes demi tetes yang terus menghantui.

Seolah merayakan hari dimana, sang gadis telah menjelma menjadi seorang pembunuh.

7 thoughts on “sang gadis pembunuh

  1. Wah.. itu si AIDS yang lu bilang ke gw yah? Kasian menderita seumur hidup, matinya tragis pula.

    Biasain klakson sebelum hidupin mobil, neng! Soalnya kucing paling senang keliaran di dekat mobil. (mungkin gara-gara hangat).

  2. ikut mengucapkan bela sungkawa yang amat mendalam atas kepergian ucem . Semoga dia akherat dia tersembuhkan penyakitnya dan menjadi peliharaan para bidadari . Dan semua yang ditinggalkan mendapatkan kesabaran.

    *ngusap air mata*

  3. wowhooo
    keren…..
    kayanya lo harus sering2 nulis seperti ini degh, ato dulu mang begini soana gw baru baca tulisan lo dengan gaya seperti ini.
    tapi asli keren, endingnya palagi huhuhu ….tumbs up

  4. ya.. saya sungguh menyesal & kecewa atas semua kekhilafan saya itu.. jika tragedi ini telah membantu terciptanya karya tulis yang disambut dengan baik, maka Alhamdulillah..

  5. hahaha…. asli…
    dari pecinta kucing skrg lo telah menjelma jadi si pembunuh kucing…. btw…. dimana lo shopping batik funky ky gituuu???!!! gw juga mauuuu!!! >____< huhuuu….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s