Jakarta oh Jakarta… (Perjalanan ke rumah dosen pembimbing)

WARNING:
This post contains explicit complaints and whines. If you think you can’t handle it, then simply stay away from it 🙂

Jakarta, 26 Oktober 2007
cuaca: hujan besar membuat diri malas beranjak dari peraduan untuk melanjutkan ketikan yang terbengkalai dari sejak tadi malam-pagi sih tepatnya karena jarum jam telah menunjukkan pukul 3 dini hari pada saat saya memutuskan untuk tidur..

Duh… sebenarnya saya senang sekali kalau lagi hujan, karena itu berarti hawa panas yang membuat emosi membara tersapu oleh guyuran air dan hembusan angin. Banyak yang benci hujan, terutama para korban banjir di daerah Jakarta Utara (ehm, daerah lo nih, Ne!) dan Timur (kali ini ehm untuk Mona).. Tapi bagi saya hujan adalah berkah tak terkira yang membawa sejuta kebahagiaan dan inspirasi (hoho). Selain itu Alhamdulillah daerah Selatan tempat saya bermukim bukan termasuk daerah korban banjir bandang.

Setelah ketikan selesai dan diprint untuk kesekian juta kalinya sampai-sampai tinta printer yang baru dibeli tidak sampai sebulan yang lalu sudah menunjukkan tanda-tanda kekeringan, berangkatlah saya.. Jarum jam menunjukkan pukul 14.30 WIB.

01.jpg

 

Baru sampai Jalan Fatmawati, kemacetan mulai tampak menghadang iman. Tapi untung saya termasuk manusia yang cukup tabah dalam menghadapi kemacetan beringas Jakarta. Dengan diiringi lagu-lagu dari mp3, saya mendendangkan lagu-lagu melankolis (?!) yang turut mendukung hawa dingin nan romantis. Sampai tiba-tiba….

Plok!” (sebenarnya tidak terdengar suara sih, tapi untuk efek terpaksa diimprovisasi.)

Seorang penumpang dari Metromini di depan saya itu dengan santainya melempar sampah! ARGHHHHH… Emosi saya yang teredam pun mulai bangkit,

“TEEEEEEEEEEEEET!!!”

Saya tekan klakson keras-keras dengan harapan orang itu sadar bahwa dia telah melanggar Undang-undang Ketertiban DKI Jakarta Pasal 200 Ayat 20 (ada ga sih hal semacam itu?)

Agak puas sedikit karena merasa telah menegur para pelanggar ketertiban umum, eh..tiba-tiba….

Plak!”

Si orang sialan itu melempar sampah berikutnya! &)@*&)_#@(_)*!!!! benar-benar tidak tau diri, dia tidak sadar ya perilaku asusilanya itu merupakan bibit dari sampah menumpuk dan banjir yang setia melanda kota tercinta ini!!!! DASAR BODOH!

tapi lalu saya pikir… penduduk Indonesia (atau Jakarta) yang berpendidikan berapa persen sih? Sisanya bukannya para pengadu nasib yang kehidupan sehari-harinya kerjanya juga tidak jelas? Bagaimana mereka mau peduli mengenai sampah atau banjir atau menjaga kebersihan? Wong sekolah aja kagak! (inilah pembenaran yang pada akhirnya membuat masalah kita tidak akan pernah ada akhirnya). Sebenernya ga terbatas pada yang ga berpendidikan sih, nyatanya masih banyak orang makan sekolahan tetep ga peduli lingkungan!

Tapi ada enaknya kali ya jadi orang “bodoh” dan tidak pedulian, hidup aman tentram. Ignorance IS bliss afterall.

 

Perjalanan berlanjut, sekarang saya telah sampai di daerah..em, Mampang ya? (maklum, saya termasuk warga Jakarta yang buta jalan dan punya kemampuan arah dan ruang teramat rendah)

031.jpg

Hujan rintik-rintik masih setia menemani. Membuat pikiran ini mengembara dengan liarnya. Dengar lirik lagu sedikit, tiba-tiba saya jadi sensitif, kenapa lirik lagu sekarang banyak sekali yang melecehkan wanita?! Sial. Tapi lagu Keane berdendang dan saya diam juga, Brit pop/rock memang paling ampuh menenangkan jiwa, terutama di saat kalut dan perlu penenang (ya gak Pul?! hehe).

“The sun ain’t gonna shine (anymore)… The moon ain’t gonna rise in the sky…”

(Sounds depressing i know, but it is actually uplifting in such a complicated way)

04.jpg

Alasan bagus untuk tidak tinggal di Jakarta (lihat gambar di atas). Dan ini terjadi di semua jalur, yang menuju SEMUA ARAH. benar-benar fenomenal. bombastis. luar biasa. sampai saya tak bisa berkata-kata.

05.jpg

hahahahahahahHAHHAHAHAHAHHAhahahahahahahAHHAHAHAHHAHAHahaha…

maaf, sulit untuk saya berhenti tertawa melihat lelucon ini. Ingat tidak saya sering sekali mengungkap tentang proyek LAWAKAN gubernur Jakarta, JALUR BUSWAY YANG DIBETON? hahahahaha…inilah dia…

Beton yang dengan tidak tahu malunya mejeng di pinggir jalan menantang para pengendara yang melaluinya seolah-olah berkata, “HAY, GODAIN KITA DONG…” (eh itu mah bencong ya)-seperti diungkapkan dalam Republik Mimpi episode XX (maap saya lupaa), pada akhirnya jadi penambah ruwet jalan, dan diicip2 oleh warga pelanggar peraturan yang barangkali menyimpan amarah dalam hatinya, “SIALAN LO BUSWAY NGEPET, SINI GUA LEWATIN JALANAN LO YANG BIKIN BENGEK GUA KUMAT!!!” (ini hanya dugaan saja-red)

penyelesaiannya tertunda 10 HARI karena libur lebaran. kenapa bukannya tambah gaji buruh untuk cepat menyelesaikan proyek lawak itu sebelum para pemudik balik ke Jakarta? (jawab: karena kita harus selalu bertenggang rasa, kasihan kan para buruh masa tidak bisa berlebaran dengan keluarganya, dan juga harus toleransi, yah, mau gimana lagi..kita hanya warga tak berdaya.. maafkan saja para pemimpinnya.)

Pelajaran PMP atau PPKN atau entah apa namanya sekarang di kurikulum terkini, rasanya malah membuat kita makin terbelakang.

Mungkin mestinya yang diajarin ke anak-anak sejak Sekolah Dasar sampai Perguruan Tinggi adalah mata pelajaran “LOGIKA“. Dengan begitu mungkin sang gubernur bisa berpikir dengan lebih baik, apa efek dari penyempitan ruas jalan dari 3 jalur jadi SATU jalur dengan BETON yang mejeng di pinggir jalan layaknya pelacur mencari uang. Atau mungkin dia jadi agak sadar sedikit, apa akibatnya jika tanaman-tanaman penyerap air dipangkas habis demi membangun “pelacur2” itu. Akhirnya negara kita yang indah permai ini pun dibangun tanpa asas yang jelas. Tanpa moral apalagi logika.. belajar pendidikan moral bertahun-tahun juga ga bikin warga negaranya bermoral. Heran…Saya sungguh heran.

06.jpg

Nahhh… kita berjumpa lagi dengan Dian Sastro dan senyuman mautnya (notice that she appears at the first picture also..) Yah setidaknya masih ada yang bisa tersenyum di tengah semrawut jalanan ibukota. Setidaknya masih ada pemandangan indah yang bisa dinikmati (ups, kok gue jadi kedengaran seperti lesbi?!).. padahal Mentari nipu tuh, 0 rupiah my ass! pokoknya jangan percaya wahai manusia di dunia! ga malu apa bikin penipuan massal kayak gitu. ehh lupa, udah biasa ya di negara kita?

Btw… saya terpaksa lewat jalan layang ini karena di bawahnya…… ada PROYEK LAWAK yang tadi saya sebut-sebut. Duh, claustrophobia saya pasti kumat kalau harus lewat jalanan laknat yang dipersesak jadi 1 jalur itu. belum lagi bis-bis beringas yang tidak mengenal kata mengalah.. Jadilah saya lewati jalanan yang menuju si patung Pancoran ini.. (ngomong2, ada yang tau gak ya, patung itu terinspirasi dari apa dan siapa? ga mungkin kan ada patung pahlawan bentuknya kayak gitu?? siapakah dia sebenarnya? dan kenapa juga dia menunjuk ke arah Tebet sana? kenapa ga ke arah lain? somebody please explain to me…)

Well, sekarang sudah pukul 16.37 WIB. Dan dosen saya yang baik hati telah tiba jadi saat-saat pembajakan wifinya sudah harus diakhiri sampai disini.

Until then!

your complaining correspondent (remains anonymous)

2 thoughts on “Jakarta oh Jakarta… (Perjalanan ke rumah dosen pembimbing)

  1. Jakarta oh Jakarta, gw baru liat gambar ke-3 dari atas aja dah pusing, stress, seakaan-akan macet tiada ujung pangkalnya, paling bosen tuh kalau macet-macet dijalan, hujan pula, siaran radio gak ada yang bagus, muter lagu2 cd bosen, belum makan dari pagi, pas banget penderitaan. :mrgreen: tapi setelah liat gambar ke-5 hati langsung adem, seakan-akan lupa atas kemacetan yang menimpa, at least buat gw sih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s