THE AWFUL TRUTH ABOUT JAKARTA…

 

Tinggal di Jakarta…banyak keanehan yang bisa diamati setiap harinya. Semua tersedia, tinggal sebut aja. Segala jenis manusia, bertebaran di mana-mana. Di jalanan, bukan hanya mobil atau sepeda motor saja yang melintas, tapi juga berbagai jenis gerobak, dari gerobak sate, gado2, ketoprak, rujak, kendaraan roda dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan, sembilan, anda sebut saja. Kami punya semua.

Hidup di Jakarta… Tak ada waktu untuk bermanja-manja, lingkungan penuh debu dan nista, tidak ada kata menyerah. Kalau perlu hidup lewat mengais-ngais sampah. Meminta-minta. Bernyanyi-nyanyi dengan modal kaleng rombeng. Sekotor apa pun, semua sudah siap menerimanya, karena sistem imunitas telah beradaptasi dengan baik menghadapi berbagai jenis virus, sekalipun itu virus ganas yang mewabah paling luas : korupsi. Serta segala jenis pelanggaran atas kepentingan pribadi.

Jakarta, kota megapolitan. Dengan lampu-lampu gemerlapnya, dengan gedung-gedung megahnya. Jalan tol membentang dimana-mana. Tapi pernahkah kita lihat dibawahnya? Kemiskinan bertebaran seperti sampah. Jalanan dipenuhi oleh sampah. Dan manusia yang merasa dirinya tak lebih dari sampah.

Jakarta, oh Jakarta… seolah jalanan kurang sesak, ditambahlah jalur-jalur busway yang memangkas habis pepohonan. Daerah perumahan akan segera diinvasi pembangunan jalan yang biadab, tak peduli berapa nyawa pohon yang harus direnggut. Karena komisi yang ditawarkan begitu menggiurkan. Mengapa menyia-nyiakan rezeki, bukankah begitu? Biarlah rakyat makin menderita, yang penting uang masuk ke kantong saya. Biarlah pohon habis dan banjir melanda, yang penting “kena macet” tidak ada di kamus saya. Toh semua orang tetap cinta Jakarta.

Jakartaku tersayang… semua orang ingin ke Jakarta. Karena di kampungnya penghasilan tidak ada. Pembangunan tidak berkembang. Di Jakarta, pakai baju robek dan memasang wajah memelas di jalan sudah dapat uang. Jadi kenapa tidak ke Jakarta saja? Kota megapolitan kita tercinta? Lalu bangunlah rumah di tempat-tempat yang tidak semestinya. Lingkungan toh tidak ada yang menjaga. Lagipula ini kan negara merdeka?

Jakarta, hai Jakarta. Bagaimana kau bisa bertahan, dihuni ratusan juta orang. Mengapa semua begitu cinta padamu. Sampai-sampai sang presiden hanya membangunmu. Mengapa pulau-pulau lain di Indonesia, atau bagian lain pulau Jawa, tidak dibangun olehnya? Apa itu karena.. semua orang cinta Jakarta?

Jakarta yang kucinta. Sabarlah duhai kotaku tersayang. Karena tiada yang abadi di dunia. Dan kelak penderitaanmu pun, akan ada akhirnya.

3 thoughts on “THE AWFUL TRUTH ABOUT JAKARTA…

  1. hahaha… so true so true… i hate jakarta’s traffic, pollution, and corruption! But i still love jakarta none the less… 😀 it’s still the most happenin’ city in Indonesia baby yeaaah!! hahaha…

  2. wahhh…
    teringin nak pergi jakarta tapi belum ada peluang…
    walau tumpah darahnya di Indonesia…
    huhuhu…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s