Manusia..we only want what we can’t have

Sebuah fenomena aneh sedang berlangsung di rumah saya. Fenomena ini sebenarnya merupakan suatu berkah, dan ada juga sebersit rasa bersalah karena menyia-nyiakan berkah itu.

Well, pada hari lebaran (Hari Raya) kemarin, Alhamdulillah kami mendapatkan beberapa parsel. Tidak banyak sih, tapi lebih dari cukup. Karena nyatanya sekarang makanan menumpuk di rumah saya. Di dapur, kulkas, meja makan, di bawah tangga (sisa parsel yang belum dibuka), dan sampai-sampai di “meja kerja” saya yang selalu berantakan layaknya baru terserang badai topan kini tersedia cemilan yang dapat disantap kapan saja.

Makanan yang menumpuk itu sempat terbuang sia-sia (sebelum akhirnya dibagi-bagi ke orang sekitar). Sungguh ironis, karena biasanya saya akan merindukan sekali yang namanya makanan kecil atau buah-buahan untuk dinikmati sambil begadang mengetik skripsi. Kalau sudah begitu biasanya saya cuma bisa ngomel-ngomel dalam hati, “KENAPAA DI RUMAH INI GA PERNAH ADA MAKANAN?!”

Saya kemudian jadi berpikir, benarkah manusia punya kecenderungan untuk menginginkan sesuatu yang tidak dapat dimilikinya?

Saya teringat salah satu dialog dalam salah satu film favorit saya (film anak-anak loh!), Harriet the Spy. It was based on a novel as you can see the link.

+: “I hate money.”

-: “Trust me, you’ll like it a whole lot more if you don’t have it.”

Agaknya dialog sederhana yang diucapkan anak-anak kecil itu menyimpan makna yang cukup mendalam dan universal.

To make things a bit more relatable, here’s the 17+ version

Pernahkah Anda terlibat cinta terlarang? And what i mean is, cinta dimana posisi Anda sebagai orang ketiga dalam hubungan orang lain (ehm, please note that I’m talking about relationships, NOT marriages!).

Belum pernahkah? Bagus.

Sudah pernahkah? Lebih bagus lagi.

Saya bukannya menganjurkan Anda untuk bermain api, tapi apa yang saya paparkan disini mungkin sulit dimengerti sampai kita mengalaminya sendiri. Coba saja tanya teman saya (bukan begitu, teman? :D)

Hubungan gelap biasanya akan sulit berakhir, karena kita jadi menyimpan suatu obsesi tersendiri yang tidak akan dimengerti oleh siapa pun (selain yang pernah merasakan tentu saja). Orang berakal sehat akan mati-matian berusaha menyadarkan kita,
“Lo ngapain sih masih aja cari gara-gara sama pacar orang?”
“Emang lo ga mikirin perasaan pasangannya ya?”
“Coba lo bayangin kalo lo yang ada di posisi dia!”

And all we can say is, “I KNOW, I KNOW! BUT I CAN’T HELP IT!!!”

It’s intoxicating.
Kita jadi sulit melepasnya, malah jadi makin “ngeyel”, kalo gitu kenapa gue yang harus ngalah? Kenapa harus gue yang korban perasaan? Pacarnya aja tuh yang lepasin! Toh (dia bilang) dia sayang kok sama gue!

[Ide-ide busuk semacam itu jarang terwujud, karena pada akhirnya Tuhan memang maha adil. Dan kalaupun akhirnya sang pacar sah yang menjadi korban… sabar aja ya, cos Karma does exist. Just don’t kill it by doing stupid things :)]

Duh jadi melenceng kan. Balik ke topik semula! Dorongan untuk bertahan dalam hubungan kayak gitu biasanya disebabkan karena deep down, kita menyadari, kita tidak mungkin memiliki orang itu. Atau setidaknya semua masih tidak jelas, apa kita akan bisa mendapatkan mereka seutuhnya pada akhirnya? Mereka telah menjadi sebuah obsesi, dan hidup dengan obsesi adalah hidup yang paling menyenangkan, mendebarkan, dan terasa bermakna.

[Mungkin tidak semua orang setuju dengan pemikiran saya, tapi hingga detik ini saya melihat kasus perselingkuhan sebagai efek samping dari rasa penasaran akan sensasi-sensasi mendebarkan. Kalau ada yang selingkuh untuk suatu hubungan serius, maybe that’s another case yah..]

Contoh lain adalah saat ada cowok/cewek yang suka sama kita. Kebanyakan orang yang saya kenal justru akan kehilangan minat dengan orang yang terlalu agresif mengejar kita. Rasa penasaran akan drop sampai titik minus. Orang-orang itu akan menjadi tidak lagi menarik untuk dilirik, bahkan cenderung mengganggu. “UDAH SANA NGILANG AJA DITELEN BUMI!!” mungkin itu yang ingin kita teriakkan ke muka mereka.

Tapi… once they stop chasing us, atau lebih parah lagi, menemukan orang lain selain kita, pasti ada perasaan tidak terima muncul, “sialan, kenapa dia ga ngejar gue lagi?”
Atau untuk kasus yang lebih ekstrim, “eh, ternyata dia oke juga ya, kenapa ya dulu gue ga mau sama dia…”
Dan jika tingkat keekstriman dinaikkan lagi, mungkin kita akan berpikir, “DAMN, kayaknya gue jadi suka deh sama dia. I GOTTA GET HIM/HER BACK!!”

Itulah beberapa contoh kasus yang kerap terjadi di sekitar saya, sehingga sampailah kita pada pertanyaan semula,

benarkah bahwa pada dasarnya, manusia lebih menginginkan sesuatu yang tidak dapat dimilikinya?

4 thoughts on “Manusia..we only want what we can’t have

  1. lol, bener banget yah, gw sering banget tuh merasa seperti itu, saat orang itu ada kyknya “iih apaan sih nih orang annoying banget”, tapi kalau dia gak ada “Mmm… mana ya dia?”. Salah satu sifat buruk gw kali ya, Mmm gw harus banyak-banyak belajar memperbaiki diri nih. Anyway, nice blog kuchikuchi.

  2. Iya manusiawi bgt kali ya,terutama kalo ditinjau dr sisi psikologis.Gw sbg anak bungsu wkt kecil selalu mau benda yg dipegang kakak gw,pdhl tdnya gw ga tertarik.
    Atau kasus paling jelas adalah amarah org Indonesia stlh lagu Rasa Sayange “direbut” Malaysia.Pdhl dari dulu.. kemana aja bang?? Budaya Indonesia ga ada yg dipublish sbg budaya kita,biar seluruh dunia tau, setelah tetangga kita yg lebih cerdik ngeduluin,baru deh kalang kabut. And we never learn our lesson..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s