Ada Seseorang di Kepalaku…Yang Bukan Aku, oleh Akmal Nasery Basral

 

Saya suka gaya penulisan buku ini. Sederhana, harfiah, tapi menyimpan makna-makna yang mendalam. Juga ada unsur-unsur “psikosis” yang merupakan favorit saya.

 

 

adaseseorg.jpg“Menulis itu adalah pilihan, bukan kewajiban.” 

 

 

 Prolog Kematian

 

Gadis itu tahu ia tak punya pilihan lain. Tidak pada saat-saat seperti ini. Tubuhnya sedang tidak sempurna, mentalnya sedang lemah, dan kondisi keuangannya, ah, tak ada yang bisa disebutnya sebagai tabungan saat ini. Ia parasit hidup bagi kedua orang tuanya. Di usia ke-21. betapa memalukan. Ia tak punya pilihan lain, selain menghabiskan pekan demi pekan di lantai 18 sebuah kota metropolis yang selalu sibuk setiap saat. Belum lagi seorang ibu yang selalu meladeninya seteliti meladeni bayi. Ia sama sekali tak tersentuh. Ia tahu telah mewarisi dua sifat terburuk dari orangtuanya: kekeraskepalaan ayahnya, dan arogansi ibunya. Semua melebur dengan sempurna di wajahnya yang seindah bidadari.

 

Suara pembawa acara di televisi tiba-tiba mengembalikan kesadarannya, “…kami baru mendapatkan konfirmasi dari pihak kepolisian bahwa korban tewas bernama Kay Elena sebenarnya bernama lengkap Caitlin Elena Adikaryono, putri tunggal Atase Perdagangan Indonesia di Uzbekistan, Bapak Adikaryono Sumo…

 

Gadis itu mengusap matanya yang basah. Ia tahu dirinya sudah lama mati, tapi tidak pernah dibayangkannya setragis ini. Ia abaikan ketukan pintu dan suara ibunya yang bertalu-talu di luar kamar. Kematian itu begitu cepat, meski terus saja terjadi pada dirinya berulang kali. Setiap saat.

 

“Kay, Kay, buka pintunya. Sarapanmu sudah dingin nanti nggak enak lagi, ayo sayang. Kamu harus banyak makan, kalau mau cepat sembuh. Kay, Kay …”

 

Bali – Jakarta, 2002-2006

 

 

Tewasnya Pengarang Tersantun di Dunia

“Ernest Hemingway bunuh diri, Yukio Mishima melakukan harakiri. Menulis adalah pilihan, Imah. Bukan kewajiban. Kalau sudah tidak mampu, tak perlu dipaksakan. Jangan membuat tokoh-tokoh kisah menderita seperti kita sekarang.”

 

“Sutan Sampono Kayo tak mungkin berpikir sedetik pun untuk bunuh diri.”

 

“Tentu saja. Ia tak setenar Hemingway atau Mishima. Kalau popularitasnya setara, barangkali sejak bertahun-tahun lalu ia mengambil cara yang sama.”

 

“Aku masih belum bisa memahami alasanmu, Mid.”

 

“Aku tersiksa sekali, Imah. Aku seharusnya hidup di zaman sekarang, menikmati kemesraan denganmu. Tapi Sutan Sinting itu membelenggu karakterku dengan norma-norma apak yang membuatku muak.”

 

“Beliau tak ingin melanggar norma yang diperjuangkannya sejak dulu, Mid. Dan itu berlaku universal baginya.”

 

Bull shit! Semua ini cuma onggokan tahi kerbau, Imah. Pantangan yang berlaku universal itu cuma satu: jangan mencuri. Itu dosa utama. Kejahatan lainnya hanyalah dosa-dosa derivatif.”

 

“Dosa derivatif?”

 

“Ya. Selain mencuri semua hanya anak-anak dosa. Pokok nista dari segala cabang dosa adalah mencuri.”

 

“Pembunuhan? Apakah itu soal kecil, Mid?”

 

“Pembunuhan adalah mencuri hak hidup orang lain, sayangku.”

 

“Pemerkosaan? Bukankah itu durjana luar biasa yang menghancurkan masa depan korban?”

 

“Perkosaan itu pencurian nikmat kesenangan yang seharusnya dialami berdua, menjadi hanya kesenangan sepihak.”

 

“Kalau korupsi? Nepotisme? Apa tidak membuat rakyat sengsara?”

 “Korupsi adalah mencuri hak orang lain demi kepuasan diri sendiri dan keluarga.” Kalau saja setiap orang di muka bumi berpikir untuk tidak mencuri, jumlah kejahatan akan berkurang secara drastis. Hampir nol.” “Tapi sekarang kamu ingin membunuh Sutan. Itu mencuri hak hidupnya, bukan?” 

“Karena ia lebih dulu mencuri hak hidupku untuk bebas mencintai siapa pun yang kusuka. Ia sudah memperkenalkan aku denganmu, namun ia tak mengizinkan aku mencintaimu.” 

“Kau ingin menuntut balas? Memberontak terhadap keinginannya?” 

“Tidak. Aku ingin membunuhnya, supaya setelah ini tidak lagi berlaku sewenang-wenang. Cukup kita korban terakhirnya.”

 

***

 

Hari belum sepenuhnya terang tanah ketika dari sebuah rumah kecil di pinggiran kota terdengar lolongan suara perempuan tua. Para tetangga yang baru menunaikan shalat Subuh segera berdatangan ke rumah itu. Mereka melihat Sutan Sampono Kayo, sang pemilik rumah, tergeletak di lantai. Kursinya terbalik tak jauh dari tubuhnya yang kaku. Komputernya masih menyala.

 

9 thoughts on “Ada Seseorang di Kepalaku…Yang Bukan Aku, oleh Akmal Nasery Basral

  1. vin, bukunya bagus ya? nanti kalau udah abis baca, cerita ama aku ya gimana ceritanya! hehe
    🙂

  2. gw jg udah baca buku ini! Tp gw suka yg cerita apa itu namanya gw lupa tp ttg cowo yg dpt secret admirer yg ternyata adalah temennya yg Gay! hiiiiy!! geli dah gw bacanya… >__<

  3. kuchikuchi & nane salam kenal,
    thanks sudah baca kumcer saya. really appreciate that.

    moshimoshi, 🙂

    ~a~

  4. OMG, Akmal Nasery Basral actually stopped by and commented my blog!! (and akismet thought it was a spam, that’s why it didn’t appear before)

    it doesn’t get any better than this!
    now i REALLY LOVE blogging! hahaha
    😀

  5. happy new year, k!
    don’t get excited too much. 🙂

    i’m nobody, who are you?
    are you nobody, too? (taken from emily dickinson’s poem)

    ~a~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s